Langsung ke konten utama

MELIHAT DARI DEKAT WAYAUA UNTUK PEMIMPIN BARU


Dok I. Kondisi Jalan  Setapak Yang Rusak

Melihat Dari Dekat Wayaua Untuk Pemimpin Baru

Perenungan, Dan, Refleksi.

Oleh : Ifan Samadi

Pada tanggal 30 Maret waktu setempat saya tiba di Wayaua dengan menempuh waktu perjalanan cukup jauh, di tambah keinginan besar melihat bagaimana keberlanjutan ekstavet kepemimpinan dari tahun ke tahun di Desa Wayaua Kecamatan Bacan Timur Selatan ketika saya menginjakan kaki di Desa, adapun ilustrasi desa yang sungguh hening dan tidak ada sama sekali perhatian pemerintah Daerah apalagi Pemerintah Desa khususnya.

Bagaimana tidak Kondisi PKK yang tidak jalan yang hanya berdiri bener saja, Tidak ada Progres Pemuda untuk mendorong Sistem pemerintahan desa yang jurdil, Progres Desa untuk Rencana Kerja Pemerintah Desa tidak jelas, jalan Setapak yang seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah desa untuk kemudian menjadikan Fungsi anggaran tingkat Desa berjalan dengan baik dan tanpa ada Tendensius dimana kemudian problem desa dapat diselesaikan tanpa hambatan apapun. Anehnya Badan Permusawaratan Desa (BPD) tidak sama sekali berupaya memantau swa kondisi yang ada untuk kemudian dilaporkan dan dibuat Musdes Desa guna memantau fungsi apa saja yang di lakukan oleh pihak Pemerintah Desa

Sebagaimana sampah pada Gorong-gorong yang begitu tidak menyenangkan untuk di lihat apalagi di cium, bau menyengat, sampah plastik pantai, rumput jalan sudah berada di bibir aspal dan sebagainya. Pertanyaannya Dimana BPD? Dimana PKK? Apakah soal anggaran yang tidak ada? Atau bagaimana. Hajatan-hajatan besar pun tidak sama sekali digubris Pemerintah Desa, Saya pikir Pemerintah desa bertanggung jawab penuh beberapa kemaslahatan yang ada bukan sebaliknya duduk tidak jelas arah dan tujuan Desa itu sendiri

Dok II. Foto Kondisi Got Desa Wayaua

Problem Kepemimpinan terus menjadi isu miring, ketika tanggung jawab tidak di lakukan dengan baik dan seharusnya sehingga menjadi catatan-catatan tidak menyenangkan dari Tahun ke tahun. Saya pikir Desa Wayaua butuh seseorang yang tulus dan iklas untuk mengerjakan tugas-tugas besar. Wayaua mestinya berani menolak Dari pada pengganti Desa Atau disebut Karteker dan apapun bentuknya Masyarakat seharusnya cerdas kemudian mendorong untuk dilakukan percepatan untuk menentukan kepala desa baru.

Mahasiswa yang kemudian memiliki kepentingan terhadap masyarakat umum tentunya punya semangat yang sama untuk terus mendorong Pemerintah Desa agar terus memantau kemaslahatan Desa sebagaimana disebutkan diatas, saya kira desa ialah pemerintah desa yang kuat mengatur dan membuat masyarakat desa terbentuk dengan baik. 

Saya kira pemerintah desa wayaua perlu mengevaluasi, mengidentifikasi, bahkan turun jangan hanya mencuci tangan tanpa memperhatikan berbagai macam problematik desa sebagaimana disebutkan diatas, Jangan hanya duduk tanpa ada upaya konkrit yang kemudian menjadi keresahan bersama.

Sebagaimana dijumpai masalah kebersihan lingkungan, masalah transparan anggaran, masalah kinerja, dan lain-lain. Tentu semangat sebagai anak desa yang menginginkan perubahan mestinya di peta serta dilakukan pendahuluan-pendahuluan yang terkait isu-isu krusial desa sehingga menjadi upaya konkrit didalam  susunan  RKP, sampai hari ini RKP tidak jelas apa saja yang menjadi plan target percepatan

Harapan nya Isu Lingkungan seharusnya diperhatikan pemerintah desa dengan melibatkan KETUA PKK, KAMTIBMAS, guna menyelesaikan masalah lingkungan terutama Sampah plastik pantai, masalah gorong-gorong penuh dengan sampah saya pikir tidak layak berada di kawasan-kawasan pemukiman warga. 

Secara serius saya melihat progres desa terbilang lambat dalam menanggulangi terkait masalah desa terlebih lagi  tidak ada sama sekali perhatikan khusus oleh pemerintah desa terutama jalan-jalan setapak yang sudah menjadi prioritas kepala Pj sebelumnya hari ini tidak dilakukan maintenance/pemeliharaan sehingga banyak menimbulkan pekerjaan baru 

Saya pikir masalah tersebut tidak menjadi alasan apapun untuk kemudian menyembunyikan tangan sebab, jalan-jalan gang berada diluar tanggung jawab pemerintah daerah dengan demikian desa seharusnya mampu dan bisa melihat problem tersebut bukan sampai hari ini tidak ada kejelasan penyelesaian sama sekali.

Refleksi ini bukan tujuan menyudutkan pihak-pihak terkait untuk kepentingan tertentu melainkan kami menginginkan pencapaian wayaua lebih baik kedepannya. Wayaua sangatlah amat dibutuhkan leader penuh kedewasaan memimpin, jurdil, serius, dan independen untuk kemudian dapat memprakarsai semangat jiwa untuk wayaua lebih baik.

Harapan yang ingin kami sampaikan bahwa masih banyak problematik yang semestinya di tangani sebagai mana disebutkan di atas, terlebih lagi masalah hak-hak sampai hari ini katanya belum ada titik temu. Idealnya Semoga ada mental yang terbentuk untuk Mahasiswa yang kemudian memiliki jiwa juang demi tercapainya masyarakat adil, dan katanya makmur.

Hemat saya sudah barang pasti bahwa masalah sampah seharusnya menjadi kesadaran bersama yang menjadikan kebersihan sebagai rumah sendiri, adapun sebagai subjek yang memiliki kesadaran bersama semangat tersebut harus dibarengi dengan kebijakan pemerintah desa dengan melibatkan fungsi otoritas pemerintah desa sebagai pemangku kebijkan tingkat desa bukan hanya berdiam diri tanpa ada upaya konkrit

Sebagaiman menyediakan kebijakan membuat Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) mengawal berbagai macam kondisi Non-teknis agar kemudian dapat mengawal kondisi yang dapat di backUp di kemudian hari, Poinnya Desa mestinya proaktif mengawal setiap isu baik isu pendidikan, lingkungan, sosial, dan budaya demi menjaga stabilitas dan marwah desa yang "katanya"ada pemimpin dan bukan malah sebaliknya.

"Desa yang indah adalah desa yang bersih, Desa yang kotor adalah pemimpin yang tidak bersih, Desa yang damai adalah pemimpin yang bekerja, dan Desa yang ruwet ada pemimpin yang tidak bekerja  "

                           ...Ifan Samadi

Waullah Huallam Bisshawab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NALAR KRITIS PRO KONTRA DOB SOFIFI

  Dok. Pro kontra Dob Sofifi D engan melihat fenomena DOB dengan berbagai macam agitasinya, saya berpandangan bahwa semua dari empat kesultanan di maluku memiliki idealisme tersendiri untuk mencapai puncak pluralisme politik hingga saat ini, oleh karena itu tidak dapat di pungkiri bahwa perjuangan serta peran dalam tubuh empat kesultanan telah melewati berbagai faktor baik faktor historis maupun faktor historiografi. Pada prinsipnya ialah eksistensi empat kesultanan tidak mungkin terpisahkan dari Esensi Propinsi saat ini. Maka dengan mengerucut terhadap terminologi yang ada bahwa tidore amat sangat berjasa bagi bangsa ini terlepas dalam masa transisinya post-sruth masyarakat cenderung tidak terkendali yang di tandai dengan bergesernya kesadaran moral terhadap kultural, tradisi, dan historis yang berakibat pada minimnya interaksi sejarah, dalam bahasa yang sering kita dengar "Jangan sekali-kali melupakan Sejarah" (Jas Merah). Dewasa ini paham modernisme radikal telah menggeser...

ADAB ATAU PEMBENARAN?

Gambar 1.1 R efleksi, Presentasi Bacaan D alam kehidupan bermasyarakat tentu memiliki privilege tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Maka kemudian jika di tarik seperti halnya konsep gotong royong , hak ini termasuk dalam logika, persatuan, keutuhan berbangsa, dan bernegara. Seperti halnya penyatuan, mestinya tiga kelompok menjadi bagian dari satu kelompok, dan satu kelompok menjadi bagian dari tiga kelompok, bukan sebaliknya membalikan logika berdasarkan privilege yang keliru. Dalam refleksi kali ini, saya mencoba membangun semacam Opini berdasarkan pengalaman di Desa dengan koherensi yang ada. Kehidupan di desa jauh berbeda, dengan kehidupan perkotaan. Desa lebih mengedepankan adab , dan kota lebih mengedepankan pembenaran ketimbang kebenaran. Sebagai kiasan misalnya, tidak asing di telinga kita, mendengar para anak muda, perangkat Desa, Tetuah , dan sebagainya, ada semacam frasa apositif yang di bangun untuk membuat anomali seperti, Anda kurang ajar, Anda munafik, anda tida...