Langsung ke konten utama

ADAB ATAU PEMBENARAN?

Gambar 1.1

Refleksi, Presentasi Bacaan

Dalam kehidupan bermasyarakat tentu memiliki privilege tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Maka kemudian jika di tarik seperti halnya konsep gotong royong, hak ini termasuk dalam logika, persatuan, keutuhan berbangsa, dan bernegara. Seperti halnya penyatuan, mestinya tiga kelompok menjadi bagian dari satu kelompok, dan satu kelompok menjadi bagian dari tiga kelompok, bukan sebaliknya membalikan logika berdasarkan privilege yang keliru.


Dalam refleksi kali ini, saya mencoba membangun semacam Opini berdasarkan pengalaman di Desa dengan koherensi yang ada. Kehidupan di desa jauh berbeda, dengan kehidupan perkotaan. Desa lebih mengedepankan adab, dan kota lebih mengedepankan pembenaran ketimbang kebenaran. Sebagai kiasan misalnya, tidak asing di telinga kita, mendengar para anak muda, perangkat Desa, Tetuah, dan sebagainya, ada semacam frasa apositif yang di bangun untuk membuat anomali seperti, Anda kurang ajar, Anda munafik, anda tidak beradab, anda korupsi, dan sebagainya, intinya ada semacam Klaim siapa yang paling suci


Anomali seperti ini sering terdengar, namun di anggap biasa, padahal ada semacam kausalitas (sebab-akibat) dari sebuah pernyataan langsung maupun tidak langsung. Misalnya, paling sering Konfrontasi langsung di anggap kurang ajar, Contoh Si-A mengatakan Si-B Kurang Ajar karena melakukan tindakan pada Si-C, padahal tindakan tidak langsung Si-C tidak dilihat oleh Si- A, berdasarkan prosesnya. Lantas dari mana Si-A mengklaim Kurang ajar terhadap Si-B?

Contoh berikut, Non pejabat-A mencoba menyakinkan SI-C bahwa Pejabat-B Korupsi, Namun Faktanya A+A=2A sama saja,  Artinya secara langsung orang tentu percaya karena telah memenuhi  satu unsur (Pejabat), sedangkan sesuatu yang tidak langsung sering menjadi kacamata hitam bagi mereka yang maling dan duduk di antara orang berkonflik (provokator licik), jadi ada semacam tindakan tidak langsung yang kemudian Si-C tidak melihat itu, Si-C hanya melihat tindakan langsung yang ketika di telisik belom tentu menjadi kebenaran, bahwa artinya Hak Privilege mestinya selaras dengan konsep utuhnya, pandangan terbatas seharusnya tidak menjadi acuan legalitas untuk mencaplok hak orang lain.

Saya mendefinisikan Perbuatan tidak langsung menjadi dua, pertama perbuatan terpuji, dan perbuatan tercela. Pertama perbuatan terpuji, kita sepakati bahwa segala bentuk peribadatan, erat kaitannya dengan ketuhanan hanya dimiliki Allah Swt, terlepas semua dari segala perbuatan duniawi, manusia hanya sebatas mengklasifikasi. Artinya perbuatan tidak langsung seseorang, bisa saja melakukan kebaikan tanpa di ketahui banyak orang, misalnya sedekah, mengajak orang untuk beribadah, melakukan tindakan mendamaikan kelompok yang bertikai, membantu orang, baik materi maupun non-material, dan lain sebagainya


Kedua Perbuatan Tercela, sebagaimana perbuatan terpuji di atas, Perbuatan tercela adalah segala tindakan, sikap, atau perilaku buruk yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama, serta dapat membawa kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks hukum, perbuatan tercela bisa juga merujuk pada tindakan yang dapat merendahkan martabat seseorang, seperti dalam kasus merendahkan orang lain, menjatuhkan harkat dan martabat orang lain, demi kelompok, dan ego kebencian lainnya.

Sebagai contoh perbuatan tidak langsung misalnya,. Si-A telah melakukan pemukulan terhadap Si-B di suatu tempat, dan akan melakukan mufakat jahat di kemudian hari, seseorang bernama Si-C melewati pekarangan, dan sejenak berpapasan langsung Antara Si-A, Dan Si-B, Si-B melakukan konfrontasi langsung terhadap Si-A, Lantas secara bersamaan Si-C mengkalim terhadap Si-B bahwa Si-B kurang ajar Dan tidak beradab, Padahal Si-C tidak objektif dalam melihat persoalan sebenarnya, dan lebih melihat  tindakan spontan ketimbang Hukum Sebab-akibat, dan jika ini di balik pada perbuatan tercela, sebenarnya Si-C lebih biadap ketimbang Si-A, dan Si-B itu sendiri, jadi sebenarnya ada orang yang lebih tidak beradab termasuk Si-C hanya saja mereka selalu menggunakan Tameng Adab agar kelihatan Ustad dan berwibawa

Analogi sosial di atas, seperti halnya kehidupan di desa saya saat ini, klaim selalu di dahulukan ketimbang fakta kebenaran, ada yang mengklaim beradab nyatanya, tidak. Ada yang mengklaim orang lain kurang ajar, padahal perbuatan tercela mereka lebih buruk ketimbang klaimnya sendiri. Anehnya sebagian kecil orang, hanya menilai pada konfrontasi langsung, ketimbang sisi tidak langsungnya, sehingga apa yang terjadi? Banyak orang menggunakan kacamata praktis dari sebab, untuk menjustifikasi hal-hal berbeda dengan yang di lihat.


Kalau kita lihat kacamata persatuan, keutuhan berbangsa, dan bernegara tentu hal-hal semacam itu di kecualikan, kecuali ada unsur yang terpenuhi. Banyak hal mestinya bisa saling merangkum, menjaga, melindungi, dan sebagainya. Perbuatan seseorang tidak dapat di pandang lebih, ketika berada di luar kendali rasionalitas, dan bukan sebaliknya,  membangun sebuah opini demi menjatuhkan orang lain, karena ketidak sesuaian selera tertentu


Menurut saya sebagian kecil orang di desa saya keliru, memandang persoalan selalu pada kacamata langsung, atau segala yang di lihat, dan yang di dengar adalah sebuah manifesto kebenaran tanpa sama sekali menjadi turunan kerangka berpikir ilmiah, saya tidak mampu mendefinisikan kaum terpelajar itu, namun pastinya ada semacam ketidakmampuan mengelola sebuah informasi yang berangkat dari terbatasnya besik belajar, atau mungkin juga kecenderungan lain sehingga kebenaran bukan lagi menjadi instrument, melainkan kebencian.


Kesimpulan saya bahwa, berdasarkan refleksi bacaan terbatas pada buku berjudul TAN MALAKA Bapak Republik Yang terlupakan, saya mencoba menyimpulkan bahwasanya adab itu universal, Iya ada di setiap saat, baik langsung maupun tidak langsung.  Sedangkan pembenaran, iya hanya tampak di depan/langsung, bersifat manis, dan manipulatif. 


Sedangkan kelompok pembenaran, justru sering kita jumpai di segala tempat, bahkan orang tidak menyadari eksistensinya, saking liciknya. Banyak orang menganggap perbuatan tersebut baik padahal sebaliknya, jangan lupa, kelompok ini sering menggandeng agama, menggunakan keburukan kecil orang lain dengan mengadu domba sesama, dan masih banyak lagi. Aliran ini sendiri sering menggunakan Instrument "Adab" sebagai jalan ninja demi mencapai validasi yang di inginkan baik menuduh orang lain kurang ajar, korup, dan sebagainya padahal secara tidak langsung kacung sesungguhnya adalah mereka


Kalau kita fear, kehidupan ini tidak lebih sama dengan kehidupan pada umumnya, tidak lebih, tidak juga kurang. Artinya tidak di pungkiri, sejauh mana kita memandang pada akhirnya kembali. Untuk itu keburukan atau kesalahan orang lain baik langsung maupun tidak langsung hanya mereka dengan tuhannya, manusia hanya sebatas menilai dengan unsur yang ada, bukan malah menyimpulkan kepada orang lain. Berhak menyimpulkan secara langsung adalah dirinya sendiri, sedangkan tidak langsung adalah mereka yang menggunakan adab untuk memberikan penjelasan, pengertian dan rangkuman tersendiri terhadap sesama.


Saya mencoba menyederhanakan bahwa berhenti menilai orang lain buruk, padahal diri sendiri lebih biadap ketimbang yang di nilai, berhenti membuat opium yang justru merugikan relasi sosial bersama, tidak ada semacam sumber ilmiah yang membenarkan bahwa menjustifikasi orang lain adalah perbuatan baik, tidak. Untuk itu perbaiki hubungan emosional yang ada demi mencapai masyarakat yang patuh terhadap keberlangsungan hidup bersama, bukan sebaliknya, membangun sebuah kebencian karena berbeda, menggiring orang lain untuk percaya pada agitasi yang di bangun secara terus menerus. 


Wallahu a'lam bishawab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELIHAT DARI DEKAT WAYAUA UNTUK PEMIMPIN BARU

Dok I. Kondisi Jalan  Setapak Yang Rusak Melihat Dari Dekat Wayaua Untuk Pemimpin Baru Perenungan, Dan, Refleksi. Oleh : Ifan Samadi Pada tanggal 30 Maret waktu setempat saya tiba di Wayaua dengan menempuh waktu perjalanan cukup jauh, di tambah keinginan besar melihat bagaimana keberlanjutan ekstavet kepemimpinan dari tahun ke tahun di Desa Wayaua Kecamatan Bacan Timur Selatan ketika saya menginjakan kaki di Desa, adapun ilustrasi desa yang sungguh hening dan tidak ada sama sekali perhatian pemerintah Daerah apalagi Pemerintah Desa khususnya. Bagaimana tidak Kondisi PKK yang tidak jalan yang hanya berdiri bener saja, Tidak ada Progres Pemuda untuk mendorong Sistem pemerintahan desa yang jurdil, Progres Desa untuk Rencana Kerja Pemerintah Desa tidak jelas, jalan Setapak yang seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah desa untuk kemudian menjadikan Fungsi anggaran tingkat Desa berjalan dengan baik dan tanpa ada Tendensius dimana kemudian problem desa dapat diselesaikan tanpa ham...

NALAR KRITIS PRO KONTRA DOB SOFIFI

  Dok. Pro kontra Dob Sofifi D engan melihat fenomena DOB dengan berbagai macam agitasinya, saya berpandangan bahwa semua dari empat kesultanan di maluku memiliki idealisme tersendiri untuk mencapai puncak pluralisme politik hingga saat ini, oleh karena itu tidak dapat di pungkiri bahwa perjuangan serta peran dalam tubuh empat kesultanan telah melewati berbagai faktor baik faktor historis maupun faktor historiografi. Pada prinsipnya ialah eksistensi empat kesultanan tidak mungkin terpisahkan dari Esensi Propinsi saat ini. Maka dengan mengerucut terhadap terminologi yang ada bahwa tidore amat sangat berjasa bagi bangsa ini terlepas dalam masa transisinya post-sruth masyarakat cenderung tidak terkendali yang di tandai dengan bergesernya kesadaran moral terhadap kultural, tradisi, dan historis yang berakibat pada minimnya interaksi sejarah, dalam bahasa yang sering kita dengar "Jangan sekali-kali melupakan Sejarah" (Jas Merah). Dewasa ini paham modernisme radikal telah menggeser...