Langsung ke konten utama

Kesetaraan Atas Apa


               Berangkat dari refleksi saya di atas ada beberapa variabel saya pakai sebagai parameter peninjau yakni 

Socrates- penye_" Apakah manusia itu dan apakah yang merupakan kebaikan tertinggi bagi manusia"

             Bicara manusia baik itu laki-laki maupun perempuan kita harus kembali kepada bentuk Hakikat manusia (Fitrah),  dalam arti sesungguhnya apa itu manusia, apa itu Tujuan hidup, dan apakah yang menjadi pandangan dunia

              Secara harfiah Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai warga masyarakat dalam suatu sistem negara. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri tanpa istilah gotong royong

                Dalam kamus bahasa Indonesia manusia merupakan sebagai makhluk yang berakal, berbudi (mampu menguasai makhluk lain) Merujuk Kepada preventif tersebut dapat dikatakan bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan yang diberi potensi akal dan budi, nalar serta moral untuk  menguasai hal hal bersifat teorema.

             Spekulatif antara Tuhan Dan Manusia hanya bersifat Intensi dimana manusia dan Tuhan tidak dapat di samakan dalam ukuran deduktif

             Pluralisme Tuhan terbuka atas manusia namun Induksi kita tentang Tuhan terbatas dengan aksioma (kebenaran tanpa pembuktian)

             Sehingga manusia dan hubungannya dengan Tuhan hanyalah teorema (kebenaran) Relasi lain di antara Manusia Ke Tuhan adalah peribadatan yang pada gilirannya adalah eksistensi itu sendiri.

             Sadar maupun tidak perbedaan itu ada, ada dan tiada mengandung yang mendahului sehingga manusia mampu mejelaskan tentang aforisma penciptaan Tuhan.

             Sebagai gambaran sejatinya Manusia hanya menerima kebenaran tanpa pembuktian metafisik yang bersifat Intensi, sedangkan Tuhan memiliki Variable yang umum (Tidak terbatas). artinya manusia memiliki kemampuan penalaran yang berdasarkan Ada mendahului yang ada, sedangkan tiada sama dengan ada hanya sebagai spekulatif.

              Jadi dari segi manusia dan relasinya dengan Tuhan memiliki perbedaan signifikan, manusia dan hubungannya dengan Tuhan hanya sebatas menjalankan, Penye_Suka maupun tidak manusia hanya sebatas menyempurnakan ajaran-ajaran Ketuhanan, manusia tidak memiliki Prosa tentang ketiadaan itu, manusia hanya menggunakan yang Ada dan yang mendahului itu (Afirmasi), pada gilirannya hanya untuk manusia itu sendiri.

               Manusia dan Relasinya Terhadap Silogisme Tuhan hanya sampai kepada yang saya jelaskan di awal, Sehingga antara manusia dan hubungannya dengan Tuhan hanya sampai pada penalaran-penalaran yang mendahului itu

                Artinya adalah  manusia bisa berdebat tentang saya adalah Tuhan dan sebagainya,   tetapi dia hanya sebatas dirinya, tidak lebih dari dirinya (subjek). Manusia tidak bisa memaksakan seperti saya jelaskan di atas, mengapa? 

               Seperti Rumus di atas bahwa Ada pasti mempunyai sesuatu yang mendahuluinya, sedangkan Tiada sama dengan yang ada dan Tiada.

           Manusia hanya berusaha sampai pada kesamaan-kesamaan tertentu dan tidak melebihi dari kaidah kaidah yang berlaku khusus.

       DEFINISI DAN IMPLEMENTASI  BIOLOGIS

           Sebagaimana definitif, Perempuan adalah istilah untuk jenis kelamin manusia yang berlawanan dengan laki-laki. 

Dengan membentuk objek pahaman bahwa  Perempuan memiliki organ Sistem reproduksi wanita yaitu ovarium, uterus, dan vagina, serta mampu menghasilkan sel gamet yang disebut sel telur

             Definisi Laki-laki adalah istilah untuk jenis kelamin manusia yang setara dengan jantan bagi hewan. Laki-laki memiliki organ-organ reproduksi seperti testis dan penis, serta mampu menghasilkan sel gamet yang disebut sel sperma.

 Ciri kelamin sekunder yang khas pada manusia seperti munculnya jakun dan rambut wajah.

             Mengapa saya memakai instrumen definisi sebagai pembanding? Yah saya sedikit mengadopsi pemikiran Spinosa bahwa tidak semua kebenaran bersifat Nyata dan sebaliknya karena ada sesuatu kaidah yang terkandung dalam definitif tersebut (Hasil Bacaan dan Kesimpulan saya)

                Secara definisi perempuan maupun laki laki memiliki perbedaan-perbedaan yang signifikan. Namun kita tidak bisa menutup kemungkinan dalam perkembangan zaman dewasa ini berbagai fakta yang ada laki laki maupun perempuan, laki laki pun bisa di buat hamil (Pandangan Aksiologis), menurut saya itu sah sah saja dalam kaidah umum tapi hal tersebut pada prinsipnya tidak bisa di bawah pada kaidah yang khusus.

             Persis halnya di atas manusia hanya sampai pada perdebatan deduktif saja antara Sifat yang terkait keselarasan Manusia dan hubungannya dengan Tuhan itu sendiri.

              Di tarik hubungannya dalam studi Gender upayanya Perempuan menginginkan keselarasan atas laki-laki tentu baik dan sangat di apresiasi, pertanyaannya apakah keselarasan itu hubungnya dengan manusia adalah Induktif atau Deduktif?

             Jika di katakan Deduktif maka silahkan saja itu hak sebagainya keterwakilan dirinya (sifat Individu subjek), tidak ada rasionalisme yang mengatakan itu adalah kesalahan melainkan menurut saya sebagai upaya mencari kejelasan dan kecermatan (Potensi)

              Dan Jika di katakan Induktif maka mestinya di letakan pertanyaan, Apakah yang merupakan keharusan itu? Dan apakah yang merupakan Tujuan?

            Menurut kesimpulan saya sejauh mana Ekstensi merespon atas atomisme yang ada, pada prinsipnya akan berbeda. Perempuan dan Laki-Laki pada kaidah yang khusus berbeda sehingga Manusia dalam konsep sifat di tuntut sama dengan Tuhan.

Sedangkan Manusia sama dengan Tuhan, Perempuan sama dengan Laki-Laki adalah Sesat.

             Pada dasarnya  Perempuan memiliki hak yang sama namun ada batasan-batasan tertentu yang tidak boleh di paksakan untuk sama misalnya perempuan itu sama  dengan laki-laki tanpa terkecuali baik itu leader dalam rumah tangga, kausalitas, dan lain-lain

                Jadi  konsep Patriarki dapat selaras dengan Feminisme_misalnya kesamaan sosial, Dualitas hidup yang sama, kepentingan hidup bernegara yang sama, Politik, Dapur dan relasinya.  Ada kaidah-kaidah tertentu yang memang tidak boleh dipaksakan, sejalan dengan itu Hukum antara laki-laki dan perempuan bersifat inkrah baik itu norma agama maupun sosial sehingga tidak boleh membuat sesuatu hukum dalam hukum itu sendiri.

Waulah Hual'lam Bisshawab


Catatan :

            Esai ini telah saya ringkas sedemikian rupa, penjabaran terkait studi kasus pada esai ini tidak di ulas secara ketat,  banyak kalimat menggunakan bahasa ilmiah, dan rumus filsafat sebagai penyederhanaan kalimat-Kalimat terpisah.

             Sebagai pengetahuan pembaca saya menulis semua esai tidak menggunakan Laptop atau Komputer sehingga ada beberapa Bahasa yang tidak scara baik dan benar dalam struktur bahasanya di karenakan saya menggunakan Handphone Android untuk menulis esai-esai saya

            Faktor yang sering terjadi adalah kebanyakan naskah yang banyak sehingga mempengaruhi progres dan kinerja Handphone,  pemeriksaan kembali yang agak ruwet, dan masih banyak lagi

             Harapannya pembaca dapat memahami semua teknisnya dan dapat memberikan masukan-masukan yang selaras dengan semangat bacaan sehingga semangat ini tidak hanya berlaku bagi saya namun justru belaku bagi banyak orang terutama dalam membaca.

          "Perenungan adalah hasrat terkuat manusia, untuk menghasilkan Sistem pengetahuan yang koheren"

Komentar

  1. Mantap bang, tulisan keren. Sering² pulbis bang, biar kita sebagai pembaca tercerahkan dengan tulisan abng. 👍

    BalasHapus
  2. Baik Terima Kasih masukannya 🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELIHAT DARI DEKAT WAYAUA UNTUK PEMIMPIN BARU

Dok I. Kondisi Jalan  Setapak Yang Rusak Melihat Dari Dekat Wayaua Untuk Pemimpin Baru Perenungan, Dan, Refleksi. Oleh : Ifan Samadi Pada tanggal 30 Maret waktu setempat saya tiba di Wayaua dengan menempuh waktu perjalanan cukup jauh, di tambah keinginan besar melihat bagaimana keberlanjutan ekstavet kepemimpinan dari tahun ke tahun di Desa Wayaua Kecamatan Bacan Timur Selatan ketika saya menginjakan kaki di Desa, adapun ilustrasi desa yang sungguh hening dan tidak ada sama sekali perhatian pemerintah Daerah apalagi Pemerintah Desa khususnya. Bagaimana tidak Kondisi PKK yang tidak jalan yang hanya berdiri bener saja, Tidak ada Progres Pemuda untuk mendorong Sistem pemerintahan desa yang jurdil, Progres Desa untuk Rencana Kerja Pemerintah Desa tidak jelas, jalan Setapak yang seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah desa untuk kemudian menjadikan Fungsi anggaran tingkat Desa berjalan dengan baik dan tanpa ada Tendensius dimana kemudian problem desa dapat diselesaikan tanpa ham...

NALAR KRITIS PRO KONTRA DOB SOFIFI

  Dok. Pro kontra Dob Sofifi D engan melihat fenomena DOB dengan berbagai macam agitasinya, saya berpandangan bahwa semua dari empat kesultanan di maluku memiliki idealisme tersendiri untuk mencapai puncak pluralisme politik hingga saat ini, oleh karena itu tidak dapat di pungkiri bahwa perjuangan serta peran dalam tubuh empat kesultanan telah melewati berbagai faktor baik faktor historis maupun faktor historiografi. Pada prinsipnya ialah eksistensi empat kesultanan tidak mungkin terpisahkan dari Esensi Propinsi saat ini. Maka dengan mengerucut terhadap terminologi yang ada bahwa tidore amat sangat berjasa bagi bangsa ini terlepas dalam masa transisinya post-sruth masyarakat cenderung tidak terkendali yang di tandai dengan bergesernya kesadaran moral terhadap kultural, tradisi, dan historis yang berakibat pada minimnya interaksi sejarah, dalam bahasa yang sering kita dengar "Jangan sekali-kali melupakan Sejarah" (Jas Merah). Dewasa ini paham modernisme radikal telah menggeser...

ADAB ATAU PEMBENARAN?

Gambar 1.1 R efleksi, Presentasi Bacaan D alam kehidupan bermasyarakat tentu memiliki privilege tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Maka kemudian jika di tarik seperti halnya konsep gotong royong , hak ini termasuk dalam logika, persatuan, keutuhan berbangsa, dan bernegara. Seperti halnya penyatuan, mestinya tiga kelompok menjadi bagian dari satu kelompok, dan satu kelompok menjadi bagian dari tiga kelompok, bukan sebaliknya membalikan logika berdasarkan privilege yang keliru. Dalam refleksi kali ini, saya mencoba membangun semacam Opini berdasarkan pengalaman di Desa dengan koherensi yang ada. Kehidupan di desa jauh berbeda, dengan kehidupan perkotaan. Desa lebih mengedepankan adab , dan kota lebih mengedepankan pembenaran ketimbang kebenaran. Sebagai kiasan misalnya, tidak asing di telinga kita, mendengar para anak muda, perangkat Desa, Tetuah , dan sebagainya, ada semacam frasa apositif yang di bangun untuk membuat anomali seperti, Anda kurang ajar, Anda munafik, anda tida...