Langsung ke konten utama

Palestina Vs Israel Agama Atau Genosida



     Saya terefleksi kekejaman Zionis Imperialis israel terhadap Palestina, Hingga kemudian saya menambah sedikit literatur buku yang berjudul Sejarah Tuhan yang di Tulis Oleh Karen Armstrong Disitu menarik Karen mengulas tentang banyak hal di antaranya kepercayaan keagamaan, keyakinan, Dosa, keraguan dan lain lain. Menurut karen sedari sebelum dan sesudah manusia sudah meletakan keyakinan bahwa eksistensi Tuhan adalah Ada, dan kepercayaan tentang ada telah menjadi sesuatu yang tak terpisahkan Saya menggambarkan tak terpisahkan adalah Mau Agama, A, B, C semua memiliki kepercayaan yang satu. Baik begitu Karen tidak menutup kemungkinan atas keraguannya terhadap Agama bahwa realitas (Alam) mampu memberikan bukti bahwa dunia sungguh baik dan sebaliknya bermanfaat. Proposisi-proposisi tersebut menurut saya sangat implisit di kaitkan dengan corak dan kontruksi berpikir yang hari ini terjadi antara Pro-Israel dan Pro-Palestina Sebelumnya Saya mengakui keterbatasan pengetahuan atas yang terjadi di Gajah, Namu begitu saya menggambarkan beberapa bacaan dan literatur sehingga memberikan sedikit kontruksi dan pandangan pemikiran saya.

Yang terjadi Di Gajah bukan Problem Pro-palestina, Pro-Israel, Pro-Hamas, Dan Pro-Fatah, bukan itu yang diinginkan sebenarnya terlepas sejarah dan keterbatasan Pengetahuan saya. Banyak yang mengaitkan persoalan Palestina Israel sebagai problem agama, Yah segala sesuatu menurut Karen Armstrong tak terpisahkan yang namanya keyakinan (Agama, Tuhan, Sosial)

Namun begitu Masyarakat Global hari ini menaruh rasa empati pada rasa kemanusiaan. Sehingga begitu dapat di katakan bahwa konsep agama telah di reduksi demi kepentingan Demitelarisasi Kaum imperialis Harapannya Kelompok minoritas maupun mayoritas dapat menelah isu-isu Nasional maupun Internasional yang kaitannya dengan perang yang terjadi, Jangan sampai isu-isu tersebut dapat berdampak buruk kepada bangsa kita sendiri. Jelas bahwa bukan persoalan Tuhan maupun agama. Agama dan Tuhan menurut karen sudah menjadi keyakinan sebelum dan sesudah manusia dilahirkan sehingga kepercayaan tentang ada dan tiada (Regenerasi) sudah terkondisi Menurut saya hal yang patut diperbincangkan menurut sejarahnya adalah siapa itu Negara Israel, dari mana asalnya, tempatnya dimana, serta tanahnya dimana. Saya pikir jelas hamas memperjuangkan adalah Hak bukan Non-Hak, Jalur damai yang diinisiasi Fatah menurut saya akan berujung pada faktor kepentingan Global (Negara Adidaya) sehingga hamas memilih jalan kemerdekaan dengan jalannya sendiri. Pemikiran Antara Pro_Kontra tentang Agama dan Tuhan yang terjadi Di gajah bukan itu yang di inginkan. Gencatan senjata yang di pelopori berbagai negara menurut saya justru harus kembali kepada kemerdekaan Palestina Secara geografis maupun sejarah tanah tersebut memiliki keagungan di mata agama-agama, sehingga jalur yang di benarkan adalah kembali kepada yang ada (Palestina) Jadi wacana tentang Inilah agamaku, dan inilah Tuhanku hanyalah alat Kepentingan Elit Global untuk membenturkan keyakinan, masyarakat harus secara eksplisit membentuk kerangka dan metode kritis dalam menelaah setiap informasi yang ada, termasuk tempat diskusi, kajian dan sebagainya.

Saya menyimpulkan secara terbatas bahwa apa yang terjadi di Gajah akan menimbulkan perang yang berkepanjangan pertama faktor kepentingan di benturkan dengan keyakinan agama Isu Teritorial disematkan pada Konsensus Ketuhanan sehingga masyarakat Pro dan kontra menjadi bimbang serta berujung pada perang keyakinan, padahal bukan itu yang di inginkan. Genosida Amerika Dan Uni-Eropa harus di hentikan, Serta Kembali ke meja perundingan dengan kemerdekaan Palestina tanpa syarat.

Jadi perdebatan yang cocok untuk Gajah saat ini hanya tentang Kemanusiaan, Yang pada Variabelnya Siapa itu Negara Israel, dari mana Asalnya, Dimana Tanahnya. Intinya jangan termakan isu yang pada akhirnya menjadi isu agama, dan Tuhan. Kesimpulan saya bahwa Persoalan Israel dan Palestina dengan relasinya Agama Dan Tuhan hanya sampai pada perdebatan Peribadatan kepada subjek terhadap keyakinan individu, Terlepas salah dan benar tergantung Esensi peribadatannya kepada Tuhan Itu sendiri. Catatan : Saya menulis esai tersebut bukan hanya sekadar menulis dan tertulis, melainkan telah melewati beberapa serangkaian di antaranya Diskusi, Membaca, Dialog, Jejak pendapat, dan informasi yang diperoleh berdasarkan Kuantitatif yang ada Meskipun beberapa dari fakta sejarah mungkin tidak secara utuh dan ilmiah, Tapi itulah beberapa pandangan dan cara berpikir saya selama mengalami perenungan-perenungan setelah dan sesudahnya


Sehingga esai tersebut diatas memiliki landasan dan cara pandang yang syarat akan Sumber literasi baik itu verbal maupun Non-verbal. Waullah Huallam Bisshawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELIHAT DARI DEKAT WAYAUA UNTUK PEMIMPIN BARU

Dok I. Kondisi Jalan  Setapak Yang Rusak Melihat Dari Dekat Wayaua Untuk Pemimpin Baru Perenungan, Dan, Refleksi. Oleh : Ifan Samadi Pada tanggal 30 Maret waktu setempat saya tiba di Wayaua dengan menempuh waktu perjalanan cukup jauh, di tambah keinginan besar melihat bagaimana keberlanjutan ekstavet kepemimpinan dari tahun ke tahun di Desa Wayaua Kecamatan Bacan Timur Selatan ketika saya menginjakan kaki di Desa, adapun ilustrasi desa yang sungguh hening dan tidak ada sama sekali perhatian pemerintah Daerah apalagi Pemerintah Desa khususnya. Bagaimana tidak Kondisi PKK yang tidak jalan yang hanya berdiri bener saja, Tidak ada Progres Pemuda untuk mendorong Sistem pemerintahan desa yang jurdil, Progres Desa untuk Rencana Kerja Pemerintah Desa tidak jelas, jalan Setapak yang seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah desa untuk kemudian menjadikan Fungsi anggaran tingkat Desa berjalan dengan baik dan tanpa ada Tendensius dimana kemudian problem desa dapat diselesaikan tanpa ham...

NALAR KRITIS PRO KONTRA DOB SOFIFI

  Dok. Pro kontra Dob Sofifi D engan melihat fenomena DOB dengan berbagai macam agitasinya, saya berpandangan bahwa semua dari empat kesultanan di maluku memiliki idealisme tersendiri untuk mencapai puncak pluralisme politik hingga saat ini, oleh karena itu tidak dapat di pungkiri bahwa perjuangan serta peran dalam tubuh empat kesultanan telah melewati berbagai faktor baik faktor historis maupun faktor historiografi. Pada prinsipnya ialah eksistensi empat kesultanan tidak mungkin terpisahkan dari Esensi Propinsi saat ini. Maka dengan mengerucut terhadap terminologi yang ada bahwa tidore amat sangat berjasa bagi bangsa ini terlepas dalam masa transisinya post-sruth masyarakat cenderung tidak terkendali yang di tandai dengan bergesernya kesadaran moral terhadap kultural, tradisi, dan historis yang berakibat pada minimnya interaksi sejarah, dalam bahasa yang sering kita dengar "Jangan sekali-kali melupakan Sejarah" (Jas Merah). Dewasa ini paham modernisme radikal telah menggeser...

ADAB ATAU PEMBENARAN?

Gambar 1.1 R efleksi, Presentasi Bacaan D alam kehidupan bermasyarakat tentu memiliki privilege tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Maka kemudian jika di tarik seperti halnya konsep gotong royong , hak ini termasuk dalam logika, persatuan, keutuhan berbangsa, dan bernegara. Seperti halnya penyatuan, mestinya tiga kelompok menjadi bagian dari satu kelompok, dan satu kelompok menjadi bagian dari tiga kelompok, bukan sebaliknya membalikan logika berdasarkan privilege yang keliru. Dalam refleksi kali ini, saya mencoba membangun semacam Opini berdasarkan pengalaman di Desa dengan koherensi yang ada. Kehidupan di desa jauh berbeda, dengan kehidupan perkotaan. Desa lebih mengedepankan adab , dan kota lebih mengedepankan pembenaran ketimbang kebenaran. Sebagai kiasan misalnya, tidak asing di telinga kita, mendengar para anak muda, perangkat Desa, Tetuah , dan sebagainya, ada semacam frasa apositif yang di bangun untuk membuat anomali seperti, Anda kurang ajar, Anda munafik, anda tida...