Langsung ke konten utama

Kebebasan Perempuan Dalam Demokrasi


Sudah menjadi isu krusial dalam suatu negara demokrasi bahwa hak kebebasan selalu menjadi topik yang tidak terlepas pada prinsip demokrasi terutama bangsa indonesia yang menganut sistem presidensial. Wacana terkait isu hak kebebasan berpendapat selalu menjadi isu fundamental yang memiliki variable tidak hanya kepada negara melainkan juga kepada masyarakat yang di antaranya adalah "Hak" Kebebasan Perempuan Dalam Demokrasi.


Perempuan selalu menjadi topik yang tidak pernah finis untuk diulas, Perempuan menurut saya ialah makhluk unik yang memiliki peran luar biasa dalam kehidupan dan peradaban manusia, dan juga Semua manusia akan memasuki pada gerbang kehidupan melalui perempuan itu sendiri. 


            Secara Definitif perempuan selalu di artikan Universal/dikenal berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki kata tunggal Empu yang berarti Tuan, orang yang mahir/ dihormati atau berkuasa Sehingga Jika di tarik secara definitif di atas  dengan realitas yang ada maka dalam kompleksitas inilah perempuan berhak memiliki kehormatan dan ditempatkan sejajar dengan laki-laki sebagai makhluk sosial yang memiliki orientasi yang sama, tidak ada upaya dominasi, subordinasi dan diskriminasi.


Perempuan Dan Batasan Gerakan


          Gerakan perempuan adalah gerakan sosial yang berfokus pada advokasi dan perjuangan untuk kesetaraan gender, hak-hak perempuan, dan pembebasan perempuan dari diskriminasi dan penindasan. Baik di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, pendidikan, dan hukum.


Ada beberapa hal yang menurut saya memiliki batasan gerakan perempuan yang menjadi stagnan  oleh gerakan perempuan meliputi Lima Hal yakni :


1. Stereotip gender: 


Stereotip gender adalah gerak  yang membatasi peran dan kemampuan mereka. Stereotip ini dapat menghambat partisipasi perempuan dalam berbagai bidang dan membatasi kesempatan perempuan untuk mencapai potensi penuh.


2. Diskriminasi


         Diskriminasi masih menjadi isu krusial dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pekerjaan, pendidikan, akses terhadap layanan kesehatan, dan kekerasan berbasis gender. ini menjadi hambatan bagi perempuan untuk meraih kesetaraan dan kebebasan.


3. Norma sosial dan budaya


       Norma sosial dan budaya masih mempertahankan pandangan patriarki yang membatasi perempuan dalam mengambil peran aktif pada masyarakat. Norma-norma ini dapat mempengaruhi keputusan perempuan dalam hal pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan kehidupan keluarga dan sebagainya


4. Kekerasan dan pelecehan


          Perempuan sering menjadi korban kekerasan dan pelecehan, baik di ruang publik maupun di dalam rumah tangga. Kekerasan ini tidak hanya merugikan secara fisik dan emosional, tetapi juga membatasi kebebasan perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.


5. Ketidakadilan sistemik


    Sistem sosial, politik, dan ekonomi yang tidak adil sering kali memperkuat ketimpangan gender. Ketidakadilan sistemik ini dapat menghambat perempuan dalam mengakses sumber daya, kesempatan, dan kekuasaan yang sama dengan laki-laki.


           Sekalipun gerakan perempuan menghadapi berbagai batasan, mereka terus berjuang untuk mengatasi tantangan dan mencapai kesetaraan sosial yang sama, kemajuan dunia hari ini sampai kepada dekade terakhir, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai masyarakat yang benar-benar setara bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin.


            Namun sayang acap kali realitasnya hampir di seluruh dunia dan berbagai aspek perempuan dipenjara, baik  Budaya memenjarakannya dan peradaban menelanjanginya. Sejak awal peradaban manusia bahkan hingga sekarang, perempuan sering dianggap sebagai mahluk inferioritas.


          Perempuan tidak ditempatkan pada ciri-ciri kualitas yang di milikinya, Tetapi pada kuantitas laki-laki selalu menjadi Jebolan dan perempuan tidak ditempatkan dari kualitas yang sama dengan laki-laki. Tentu kita menyadari sebagai diferensialitas di antara dualisme perempuan dan laki-laki, Namun proposisi jiwa dan kelebihan seorang perempuan harus di sadari sebagai wacana yang teramat penting berbeda dengan laki-laki, faktanya perempuan lebih mendominasi di berbagai lini Pembentukan citra baku dimana pertimbangan proses fisik sebagai prasyarat dalam penguasaan struktur sosial sehingga berhasil menggeser perempuan menjadi makhluk kelas berpikir kedua.


            Hampir seluruh aspek kehidupan sosial merefleksikan maskulinitas (kelaki-lakian).  Menurut saya ini menjadi akar yang terus tumbuh subur dalam aspek pola pikir dari tantangan peradaban Klasik hingga masyarakat sekarang, yang kemudian membelenggu perempuan dengan budaya yang disebut Patriarki.


         Peran perempuan hanya berkisar pada wilayah domestik (Kasur dapur dan rumah) Hemat saya satu hal yang paling ruwet dari patriarki ialah sistem legitimasi yang memperoleh control atas seluruh bidang pengetahuan. Entah hukum,politik, sastra, teologi hingga filsafat adalah arena dominasi wacana laki-laki.


Subordinasi perempuan Pada Pengetahuan 


      Subordinasi perempuan dalam pengetahuan adalah fenomena di mana pengetahuan dan pemahaman yang dihasilkan oleh perempuan dianggap kurang berharga, diabaikan, atau dianggap tidak sebanding dengan pengetahuan yang dihasilkan oleh laki-laki. Hal ini terkait dengan ketidakadilan gender yang masih ada dalam masyarakat, di mana perempuan seringkali dianggap rendah nilainya atau tidak memiliki otoritas yang sama dalam menghasilkan pengetahuan.


              Menurut saya ada Beberapa kemungkinan dan faktor yang menyebabkan subordinasi perempuan dalam pengetahuan  Pertama_ Bias gender Bias gender dalam masyarakat dapat mempengaruhi cara pandang terhadap pengetahuan yang dihasilkan oleh perempuan. Pengetahuan yang dianggap "feminin" seringkali dianggap kurang berharga atau dianggap tidak memiliki keahlian yang sama dengan pengetahuan yang dianggap "maskulin".


        kedua_ Ketimpangan akses Perempuan seringkali menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan dan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan mereka. 


         Ketiga _Dominasi laki-laki dalam institusi pengetahuan seperti universitas, lembaga penelitian, dan media seringkali didominasi oleh laki-laki. Hal ini dapat menyebabkan pengetahuan yang dihasilkan oleh perempuan diabaikan atau dianggap tidak relevan.


         Keempat_Stereotip dan prasangka terhadap perempuan dapat mempengaruhi cara pandang terhadap pengetahuan yang dihasilkan, Baik dianggap kurang kompeten atau kurang berpengalaman dalam bidang tertentu, sehingga pengetahuan yang mereka hasilkan dianggap tidak berharga.


           Kelima_Kurangnya representasi perempuan dalam bidang-bidang seperti sains, teknologi, dan politik dapat menyebabkan kurangnya perwakilan dan pengaruh perempuan dalam menghasilkan pengetahuan.


           Artinya sampai sini hemat pemikiran saya bahwa Penting untuk mengakui dan mengatasi subordinasi perempuan dalam pengetahuan. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong inklusi perempuan dalam proses pembuatan pengetahuan, memperluas akses perempuan terhadap pendidikan dan kesempatan, serta menghilangkan bias gender dalam penilaian terhadap pengetahuan yang dihasilkan oleh perempuan. Dengan cara demikian dapat memperkaya pengetahuan dengan perspektif yang lebih luas dan mencapai kesetaraan gender dalam dunia pengetahuan baik laki-laki maupun perempuan.


           Dalam dunia filsafat barat, Ada beberapa filsuf tampak sangat sinisme ketika berbicara soal perempuan. Aristoteles misalnya. mengatakan bahwa perempuan ialah istri laki-laki yang digunakan untuk memiliki anak. 


         Artinya bahwa pada konteks ini perempuan hanya berdominan pada keterikatan fisik yang apabila di butuhkan maka junjungan cinta menjadi satu pola wilayah rumah cintanya dengan demikian bahwa konteks perempuan tidak lagi menjadi kualitas pada dirinya melainkan kualitas pada tekanan eksternalnya, artinya perempuan tidak lagi mandiri akan eksistensi kefeminismenya  sehingga perempuan dalam realitas seperti halnya seorang budak. Pada hal Perempuan selalu mengambil bagian untuk menyediakan kebutuhan fisik dan non fisik.


            Mengutip pada pernyataan Francis bacon Iya mengatakan bahwa perempuan adalah penjara bagi laki-laki, perempuan membawa pengaruh buruk dalam kehidupan laki-laki. bahkan  St. Thomas ikut berujar bahwa perempuan adalah laki-laki yang tidak sempurna (Arivia, 2002). Dan masih banyak lagi filsuf seperti Plato, Descartes, Schopenhauer serta yang lainnya memberikan pandangannya yang cenderung misoginis soal perempuan.


            Buruknya pandangan para filsuf, mereka mengklaim sebagai kebenaran universal dan mereka memiliki legitimasi atasnya. Namun begitu, sederetan filsuf lainnya selain filsuf yang saya sebutkan,  Namun ada juga yang memberikan kontribusi dalam memberi pemetaan posisi perempuan, Salah satunya  Jaques Lacan. 


Relasi Bias Antara Laki-laki Dan Perempuan


          Relasi tidak adil antara perempuan dan laki-laki dalam filsafat sebenarnya dipicu oleh tradisi pemikiran dikotomi. Dalam filsafat dualisme Plato misalnya, Plato  membagi  manusia atas jiwa dan raga (badan). menurut Plato, jiwa lebih unggul dibanding raga. Ini menunjukan bahwa dalam hirarki pemikiran ada pengkategorian dimana unsur yang satu lebih unggul atas unsur lainnya.


       Kerangka berpikir ini diperkuat oleh ilmu pengetahuan modern, dimana perempuan diasosiasikan sebagai objek dan laki-laki adalah subjek, ini mengapa selalu memicu ketimpangan dalam relasi gender, Dari uraian tesis yang telah saya dipaparkan di atas. Telah saya konsepsi kan yang ada pada sebuah objek pahaman kita tentang sejarah dari berbagai fenomena realitas dimana cara pandang misoginis berhasil melempar perempuan pada jurang patriarki.


           Dengan dasar kasus di atas apakah perempuan demikian lalu dan sekarang masih di berlakukan sama? Jika sama mampukah perempuan melawan itu? Menurut saya mampu bukan dalam konteks melawan dan melepaskan fungsinya sebagai perempuan yang Alamiah (lepas dengan maskulin). Pertama_perempuan harus memahami job sebagai perempuan merdeka yang terlepas pada prinsip penindasan fisik tanpa kompromi (semena-mena) sehingga perempuan hadir sebagai keterwakilan jiwa atas dasar cintanya, bukan atas dasar cinta pada kata.


        Yang kedua_Perempuan harus mampu membangun kesadaran kritis sebagai manusia utuh yang memiliki otonomi dalam menentukan kemandirian filsafat. Perempuan harus  mampu menjawab peradaban agar perempuan tidak termakan oleh zaman nya, Perempuan harus mampu  mengambil bagian dalam berbagai struktur, politik, ekonomi, legislatif, dan Eksekutif.


         Terlepas dari itu perempuan Harus mampu Mengasah intelektualitas guna membangun peradaban yang setara. dengan itu perempuan mampu menegasikan diri nya sebagai subjek yang terlepas pada kesewenang wenangan, dan perempuan akan mampu memposisikan dirinya pada negara tanpa tendensius


Kesimpulan Dan Saran


Sampai pada kesimpulan kali ini menurut hemat saya, Yang paling Urgensi yang ingin saya sampaikan bahwa perempuan ialah rumah di atas cinta. jika penindasan masih menjadi isu global terhadap perempuan maka objek penindas itu baru sampai pada rumah saja dan belum sampai pada seantero rumah itu. Artinya Ia baru sampai pada depan teras rumah itu dan belum sampai pada rumah sekalian cinta di atas cinta.


Dengan demikian bahwa perempuan bukanlah dimensi (Objek) yang di maksudkan oleh para filsuf. Melainkan perempuan adalah satu dari subjek yang tidak ada komprominya terhadap kebebasan yang persis sama dengan kaum laki-laki


Subordinasi yang di maksudkan terhadap perempuan mestinya di refleksikan kembali dalam kontruksi utuh manusia merdeka dan menyatu terhadap cabang pengetahuan secara umum dan mengikat. Kita tidak memungkiri peran perempuan dalam berbagai aspek teologis maupun aksiologis perempuan selalu mengambil peran yang sama sekalipun dalam peran tersebut perempuan selalu di penjara pada kualitas sistem patriarki itu sendiri


Benang merah yang dapat di tarik pada  tulisan saya kali ini adalah kesetaraan atas kepemilikan yang sama dengan kata lain politik, sosial budaya, hak demokrasi, dan hak berpendapat sama dengan kaum laki-laki.


Sekian yang dapat saya uraikan kepada teks ini semoga mampu menjadi episentrum pemikiran kelas upayanya menjaga stabilisasi pemikiran antara kelas perempuan dan kelas laki-laki


Dan juga semoga tulisan ini dapat memberi sedikit nutrisi propaganda pemikiran sehingga berpikir tidak terpenjara dalam ruang ruang tendensius,sehingga setiap subjek apapun dapat merepresentasi eksistensi berpikir layaknya manusia sebagaimana fitrahnya.


Semoga dalam kuantitas esai ini dapat memberi saya masukan berupa ide serta gagasan yang kuat terhadap pembaca, kemudian saya pribadi dapat membenah dan melakukan serangkaian perbaikan yang tentu mempunyai dampak kepada diri saya pribadi untuk selalu semangat membuat refleksi kedepannya.


Apabila pada esai ini terdapat beberapa kekeliruan yang di anggap salah oleh pembaca mohon di koreksi dan di beri masukan kepada saya untuk membenah, dan juga mohon masukan dan kritiknya agar kedepan saya sebagai pribadi dapat belajar dari teman teman sekalian


Demikian yang mungkin saya uraikan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, utamanya kepada ilmu dan pengetahuan yang lebih kompetitif.


Sumber

1. Saskia Eleonora Wieringa_Penghancuran Gerakan Perempuan Di Indonesia

2. Dr. Mansour Fakih_Analisis Gender Dan Transformasi Sosial

Prakata :

Berpikir sudah kaya bercinta, bedanya berpikir tidak menangis disebabkan cinta. Jadi bercinta kemudian menangis bukan berpikir namanya melainkan budak cinta. 

Ifan Samadi

Yogyakarta, Rabu 13 Desember 2023

Waullah Huallam Bishawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELIHAT DARI DEKAT WAYAUA UNTUK PEMIMPIN BARU

Dok I. Kondisi Jalan  Setapak Yang Rusak Melihat Dari Dekat Wayaua Untuk Pemimpin Baru Perenungan, Dan, Refleksi. Oleh : Ifan Samadi Pada tanggal 30 Maret waktu setempat saya tiba di Wayaua dengan menempuh waktu perjalanan cukup jauh, di tambah keinginan besar melihat bagaimana keberlanjutan ekstavet kepemimpinan dari tahun ke tahun di Desa Wayaua Kecamatan Bacan Timur Selatan ketika saya menginjakan kaki di Desa, adapun ilustrasi desa yang sungguh hening dan tidak ada sama sekali perhatian pemerintah Daerah apalagi Pemerintah Desa khususnya. Bagaimana tidak Kondisi PKK yang tidak jalan yang hanya berdiri bener saja, Tidak ada Progres Pemuda untuk mendorong Sistem pemerintahan desa yang jurdil, Progres Desa untuk Rencana Kerja Pemerintah Desa tidak jelas, jalan Setapak yang seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah desa untuk kemudian menjadikan Fungsi anggaran tingkat Desa berjalan dengan baik dan tanpa ada Tendensius dimana kemudian problem desa dapat diselesaikan tanpa ham...

NALAR KRITIS PRO KONTRA DOB SOFIFI

  Dok. Pro kontra Dob Sofifi D engan melihat fenomena DOB dengan berbagai macam agitasinya, saya berpandangan bahwa semua dari empat kesultanan di maluku memiliki idealisme tersendiri untuk mencapai puncak pluralisme politik hingga saat ini, oleh karena itu tidak dapat di pungkiri bahwa perjuangan serta peran dalam tubuh empat kesultanan telah melewati berbagai faktor baik faktor historis maupun faktor historiografi. Pada prinsipnya ialah eksistensi empat kesultanan tidak mungkin terpisahkan dari Esensi Propinsi saat ini. Maka dengan mengerucut terhadap terminologi yang ada bahwa tidore amat sangat berjasa bagi bangsa ini terlepas dalam masa transisinya post-sruth masyarakat cenderung tidak terkendali yang di tandai dengan bergesernya kesadaran moral terhadap kultural, tradisi, dan historis yang berakibat pada minimnya interaksi sejarah, dalam bahasa yang sering kita dengar "Jangan sekali-kali melupakan Sejarah" (Jas Merah). Dewasa ini paham modernisme radikal telah menggeser...

ADAB ATAU PEMBENARAN?

Gambar 1.1 R efleksi, Presentasi Bacaan D alam kehidupan bermasyarakat tentu memiliki privilege tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Maka kemudian jika di tarik seperti halnya konsep gotong royong , hak ini termasuk dalam logika, persatuan, keutuhan berbangsa, dan bernegara. Seperti halnya penyatuan, mestinya tiga kelompok menjadi bagian dari satu kelompok, dan satu kelompok menjadi bagian dari tiga kelompok, bukan sebaliknya membalikan logika berdasarkan privilege yang keliru. Dalam refleksi kali ini, saya mencoba membangun semacam Opini berdasarkan pengalaman di Desa dengan koherensi yang ada. Kehidupan di desa jauh berbeda, dengan kehidupan perkotaan. Desa lebih mengedepankan adab , dan kota lebih mengedepankan pembenaran ketimbang kebenaran. Sebagai kiasan misalnya, tidak asing di telinga kita, mendengar para anak muda, perangkat Desa, Tetuah , dan sebagainya, ada semacam frasa apositif yang di bangun untuk membuat anomali seperti, Anda kurang ajar, Anda munafik, anda tida...