![]() |
| Gambar 1.1 |
(Penipu)
Oleh : Ifan Samadi
Arti bahasa putar bale sendiri di maluku utara khususnya memiliki arti universal, tidak memiliki sebuah frasa langsung namun memiliki spesifikasi khusus misalnya pembohong atau penipu, dan pendusta. Sifat seperti ini di maluku utara umumnya paling dibenci bahkan sampai dilaknat sehingga sifat putar bale yang sudah mendarah daging tentunya amat sulit dihilangkan.
Sebenarnya miris melihat tingkah laku sebagian orang yang kemudian pergi merantau bukannya mencari rizki malahan sebaliknya menjadi Penipu, penjilat, dan bermental korup. Ironisnya, sebagian dari manusia beranggapan bahwa perbuatan tersebut bukanlah sebuah ukuran untuk dapat dipertanggung jawabkan. Dengan melatar belakangi hal di atas saya mencoba menarik subjek dengan Kata "Manusia" sebagai dasar acuannya.
Saya banyak keluar di sebagian kecil daerah sejak tahun 2016 lalu hingga 2025 saat ini, jarang sekali saya balik ke kampung yang tentunya, saya banyak berafiliasi dengan orang sekitar baik segi sosial, budaya, dan tradisi. Banyak yang kemudian saya jumpai ketika berada di lingkungan berbeda baik itu sesi positif maupun negatif, apa saja yang saya temui? Saya menemukan fenomena sosial yang selalu mengerucut di tiga sumber kehidupan di antaranya sosial, dan Ekonomi, serta tradisi individunya. Tentu banyak yang perlu saya refleksikan mengingat anak muda maupun usia lanjut dewasa ini justru sering keluar dari substansi hidup itu sendiri
Pertama, berkaitan erat antara mental menipu, dan penipu dengan koherensi sosial, dan ekonomi. Saya menemui anak muda dalam kondisi sosialnya bagus dan menarik karena pergaulan yang di timbulkan memliki impak positif antara manusia A, dan Manusia B, Namun komitmen sosial ini tidak di landasi dengan prinsip yang kuat sehingga mampu memberikan dampak kedepan. Misalnya saya temui di banyak tempat anak muda membicarakan masa depan berupa kaya, memiliki A, dan mempunyai B. Namun faktanya Hanya Stagnan dalam sebuah lingkaran saja dan tidak memiliki impak serius di dalam kehidupan ekonomi mereka
Alhasil, Ekonomi primer memaksa setiap individu untuk bertindak. Maka apa yang terjadi? Kebutuhan primer sosial dan Ekonomi menjadi landasan kuat mempengaruhi perilaku manusiawinya. Ironisnya, dampak ditimbulkan bukan saja tentang ingin kaya melainkan lebih dari itu semua, Acuannya seperti apa? Pertama ketergantungan sosial yang berangkat pada gengsi, ingin memiliki dan ingin menguasai, kedua keterbatasan ekonomi yang memaksa setiap individu untuk bertindak, tindakan inilah yang kemudian membawa subjek manusia ke dalam ranah Menipu dan Penipu mengapa?
Karena pendekatan sosial dan ekonomi yang dihadirkan hanya berupa stagnan dan berputar dalam ruang saja sehingga Sosial memaksa manusia bertindak dengan instrument ekonomi sebagai pelengkapnya. Sebagai contoh misalnya Si-A Memiliki Barang-B, dan Si-B Tidak Memiliki seperti halnya barang Si-A, maka dengan pendekatan Anasos kita tidak lagi melihat sebuah keadilan karena telah di batasi oleh prinsip ekonomi (Tekanan sosial) maka sosial ini telah dikecualikan apalagi dalam prinsip humanismenya tidak melahirkan sebuah tindakan, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah tidak adanya sinkronisasi antara Hubungan sosial dan ekonomi sehingga melahirkan manusia-manusia bermental Penipu, dan korup. Sebagai bahan pertimbangan misalnya masih Banyak saya melihat anak muda dewasa ini yang kemudian rebahan lalu ingin kaya, ingin pintar namun tidak membaca, ingin membaca namun diam diantara samudera pacifik
Kedua, Tradisi buruk. Banyak sekali saya jumpai di tempat kerja, tempat tongkrongan serta sejenisnya. Belajar dari faktor sosial ekonomi di atas, sejatinya banyak yang seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk bagaimana melihat surplus kehidupan, seharusnya bertambah dan bukan sebaliknya berkurang. Menurut saya tradisi yang buruk dapat mempengaruhi hubungan sosial, dan ekonomi sehingga yang terjadi semua orang dibohongi, meminjam uang orang lain tidak pernah dikembalikan, menipu orang lain mengatasnamakan sosial, dan ekonomi padahal semuanya hanya omong kosong yang di ciptakan sebagai citra kemanusian yang buruk.
Apa saja sumber dari tradisi yang buruk itu? Hemat saya sebagaimana saya menjadi pelaku langsung di dalam lingkaran tersebut, saya melihat ada dua kekurangan yang menjadi sumber dari segala sumber tradisi buruk bagi individu. Pertama Minimnya literasi, menurut saya diera modern saat ini sesuatu yang berhubungan dengan literasi tentu sudah terpenuhi dengan adanya berbagai macam sumber misalnya internet, sekolah meskipun terbatas, kondisi sosial antara relasi manusia dan manusia tentu unsur literasi sudah terpenuhi. Namun sering kali di hantui tradisi buruk tentang malas, gengsi tanpa usaha, bergaul tanpa memikirkan dampak buruk, minum minuman keras, dan sebagainya.
Kedua, tradisi bersikap apatis atau bodoh amat, merasa paling tau, dan hilangnya adat ketimuran, Afiliasinya jelas yakni literasi. Diketahui bahwa setiap orang memiliki hak yang sama namun dibaliknya ada sesuatu yang mengikat yaitu norma. Namun dewasa ini tradisi itu telah dibungkam oleh tradisi buruk individu saat ini, duduk hanya berbicara tentang dunia tanpa solusi, berbicara makna tanpa hakikat,. Yang pada akhirnya adalah ketidak pastian antara melakukan perbuatan baik, dan berbuat jahat
Tekanan semacamnya begitu kuat dari dalam dan luar sehingga membuat seseorang sulit membuat keputusan cepat, mengakibatkan konflik horizontal dalam masyarakat karena di pengaruhi oleh tindakan dan tradisi perilaku yang buruk sebelumnya. Sebagai gambaran banyak hasil yang saya temukan anak-anak sekarang lebih mengedepankan proses instan di banding proses panjang sehingga menjadi tantangan tersendiri khususnya dalam menghadapi tantangan zaman saat ini.
Kesimpulan yang dapat saya berikan bahwa tidak ada salahnya mau duduk dengan siapa, berbuat apa, melakukan apa semua tidak menjadi ukuran untuk melakukan sesuatu hal yang baru. Masalahnya adalah langkah dan cara untuk menjaga esensi eksis agar tetap ada dalam koridor kemanusiaan sering terbelenggu, karena itulah kontrol individu dalam tradisi kebaikan dan moril sosial bersama sering tidak mampu menjadikan subjek sebagai lumbung penyatuan antara eksistensi dan ideologi kemanusiaan menjadi terbatas
Sebagai akibatnya, muncul teori klaim kebenaran. Sejatinya pantas di benarkan jika berada dalam tradisi yang tepat, jika tidak sebaliknya pantas ditolak. Artinya apa, masalah yang sering dihadapi ialah klaim-klaim sepihak mengatasnamakan konsep apapun demi membenarkan klaim. Klaim bukan berarti salah, bukan berarti benar namun klaim mestinya memilki dasar dan sumber akurat sehingga konflik-konflik horizontal dapat diminimalisir berdasarkan fakta yang ada
Merujuk kepada klaim di atas bahwa banyak sekali ketika seseorang memiliki objek-A dan berpandangan B- maka ada saja klaim yang di buat berdasarkan klaim sepihak padahal di dalam terminologi kebenaran, untuk menemukan sebuah objek kebenaran ada instrument yang digunakan secara ketat baik neraca external maupun internal demi menemukan sebuah fakta Klaim yang ada.
Berbicara koridor dualisme Klaim dan Tradisi, menurut pandangan kesimpulan saya bahwa ketidak pastian itu ada karena eksistensi tidak mampu menjaga dirinya sendiri terlebih kepada tekanan sosial, dan ekonomi. Faktornya adalah tekanan eksternal dan internal tidak mampu di backup oleh eksistensinya sendiri sebagaimana saya sebutkan di atas, sehingga sering kali acuan alternatif digunakan seperti tradisi buruk menipu, penjilat, dan mental korup sering digunakan sebagai tameng kemampuan internnya padahal sebaliknya. Itu sebabnya banyak maling, penjilat, dan penipu lebih sering diketahui dari belakang ketimbang di depan yah seperti ini.
Sebagai catatan, dan perenungan.
Tulisan diatas saya rasakan langsung ketika seseorang awal meminjam uang ke saya, aura wajahnya tatkala seperti malaikat, ketika masih ada uang berbicara sudah seperti pemilik Langit dan bumi, ketika kerja hasil Nol malah menyalahkan kelompok lain. Artinya kejujuran telah dilatih sejak dini, dan manusia itu sempurna dari segala aspek penciptaannya sehingga perbuatan salah maupun benar, manusia dapat men counter itu.
Dalam bahasa maluku utara disebut PUTAR BALE harusnya di buang sejauh-jauhnya, Jangan merasa memilki jika bukan kepunyaan pribadi, Suka menipu dan cerita tinggi sebaiknya di tinggalkan sejak dulu sebab amat sangat mempengaruhi kondisi sosial yang dialami, saya tekankan lagi jangan menjadi Manusia PUTAR BALE (Penipu), Hak orang lain yang diketahui saja Haram hukumnya untuk dimiliki apalagi mereka yang tidak mengetahui sama sekali. Karena itulah Stop PUTAR BALE, Bekerja dan Rasakan lah Rahmat Allah yang sebegitu lengkap dan sempurna, bukan duduk di suatu tempat dan menipu dengan segala cara.
Waullah Hual'lam Bisshawab

Komentar
Posting Komentar